Pentingnya Tingkat Literasi Masyarakat Indonesia Di Tengah Era Kompetisi Global

Patricia

Kabarsulut.com - Kemampuan berdirikari sebuah bangsa tidak bisa di pisahkan dari peran sektor pendidikan yang berperan sebagai "katalisator" keunggulan sumber daya manusia unggul bangsa. Pendidikan berbasis keterampilan (skill -- based education) harus menjadi salah satu pilar pendidikan yang tidak bisa diabaikan untuk menjawab kebutuhan kompetensi di atas.

Pendidikan berbasis keahlian baik secara formal maupun non formal akan memberikan kontribusi konstruktif sehingga masyarakat memiliki keterampilan yang bisa langsung di aplikasikan dalam dunia kerja.

Selain itu, pendidikan berbasis keterampilan akan mendorong masyarakat sanggup menciptakan berbagai unit usaha mandiri (wirausaha). Sektor pendidikan bisa di katakan adalah generator vital dalam menggerakan produktifitas sebuah Negara untuk melaju dalam tingkat pembangunan dalam berbagai bidang.

Memiliki proyeksi pembangunan bangsa dalam skala jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yang hebat sekalipun jika tidak di barengi dengan konstruksi kualitas sumber daya manusia unggul melalui pembanguanan sector pendidikan akan sulit tercapai. Bagaimana dengan kuaiitas sumber daya manusia di Indonesia? Salah satu indikator yang kerap kali di pakai dalam riset evaluasi tingkat kualitas sumber daya manusia adalah angka literasi.

World Economic Forum pada tahun 2015 sepakat dalam pengelompokan enam literasi dasar yang memiliki segment-segment yang spesifik yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi financial, literasi budaya dan literasi kewarga negaraan. Dalam survey literasi yang di lakukan oleh OECD (Organisation For Economic Co-operation & Development) bertajuk Program For International Student Assessment (PISA) menunjukan bahwa Indonesia hanya berada pada tingkat 62 dari 70 negara yang menjadi responden dan hanya memiliki skor 395,3. Skor PISA ini di ukur dengan tiga indicator kualitas pendidikan yaitu kemampuan matematika, ilmu sains dan membaca. Jika dibandingkan dengan beberapa Negara lain, Indonesia berada jauh di bawah Singapore dengan skor 556, Vietnam dengan skor 495 dan Thailand dengan skor 415.

Dalam artikel bertajuk "TEKNOLOGI MASYARAKAT INDONESIA : MALAS BACA TAPI CEREWET DI MEDIA SOSIAL" yang di publikasi di situs Kominfo pada tahun 2017 mengutip data dari UNESCO bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada angka 0,001%, itu artinya dalam 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca, Ironisnya, dari total populasi 264 juta jiwa penduduk Indonesia sebanyak 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8% yang sudah terhubung dengan internet. Angka ini meningkat dari tahun 2017 saat angka penetrasi internet di Indonesia tercatat sebanyak 54,86%.

Masyarakat yang berada pada Negara-negara berkembang rata-rata menghabiskan waktu membaca 6-8 jam per hari sedangkan durasi membaca per hari rata-rata dari orang Indonesia adalah 30-59 menit per hari, itu artinya kurang dari 1 jam per hari. Minat baca Indonesia masih berada jauh di bawah standard UNESCO yang menganjurkan membaca paling minimal 4-6 jam per hari.

Sebuah entitas masyarakat local akan mampu bersaing di tengah era kompetisi global ketika memiliki kompetensi yang mumpuni. Realitas kompetisi hari ini membuat kepemilikan kompetensi yang berdaya saing mutlak di miliki dan bukan lagi sebatas kebutuhan alternative. Persaingan pasar bebas hari ini mulai terasa bukan lagi sebatas wacana tapi sudah terasa sebagai realitas tantangan di tengah masyarakat lokal kita. Kompetisi global telah memicu terjadinya inovasi berkelanjutan (sustaining innovation) yang kian pesat membuat persaingan global kian terasa dalam setiap ruang lokalitas di Negara kita. Contoh yang kontras akan hal ini terlihat saat hadirnya taxi online seperti gojek dan grab membuat transport konvensional seperti angkot dan ojek mulai tergusur.

Sektor usaha ritel nasional sempat mengalami anjlok bukan karena pasar mengalami kelesuan tapi karena media social seperti facebook, instagram dan whatsapp telah menjadi medium e-commerce yang sangat agresif menyuburkan online shooping.

Ritel yang selama ini menjadi "middle supplier" antara produsen dan konsumen kena imbas penurunan karena kian suburnya online shooping memotong "overlapping market" antara produsen dan konsumen. Akibatnya akses negosiasi dan transaksi dagang antara produsen dan konsumen bisa terhubung secara langsung bukan lagi dengan metode dagang manual yang terbatas tapi metode dagang digital yang lebih praktis dan inovatif.

Menyadari realitas kompetisi di atas mau tidak mau dan siap atau tidak, sebuah entitas masyarakat local mutlak mengasah kompetensi dalam berbagai bidang keahlian dengan mengkontekstualisasinya dengan kebutuhan daya saing masa kini.

Berdasarkan data dari Wearesocial tahun 2017 menunjukan bahwa orang Indonesia dalam sehari bisa tahan menatap layar gadget hingga 9 jam per hari. Tidak heran jika Indonesia tergolong Negara keempat terbesar sebagai Negara teraktif pengguna smartphone setelah China, India dan Amerika.

Menurut pakar psikologis, secara alami setiap orang punya kecenderungan untuk mempercayai informasi yang mudah di cerna. Berdasarkan penelitian pemindaian aktivitas otak, saat kita berhasil memahami sebuah fakta atau pernyataan tertentu, otak akan memproduksi hormon dophamine, hormon ini akan membuat seseorang merasa lebih nyaman, bahagia dam merasa positif.

Sebaliknya, jika otak menerima informasi yang rumit dan butuh analisis mendalam, maka bagian otak yang mengatur rasa sakit dan muak akan menjadi lebih aktif. Kita harus sadar bahwa banyak berita hoax, hate speech dan framing opinion di bangun dengan kerangka ini, akibatnya sangat kuat mempengaruhi publik yang minim literasi.

Secara natural manusia, sangat rentan dengan paparan hoax dan ujaran kebencian yang destruktif. Oleh karena itu, membangun kultur literasi adalah hal mutlak di tengah masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian terkait, hoax dalam masalah sosial politik mencapai angka 91,8%, masalah SARA mencapai angka 88,6%, kesehatan mencapai 41,2%, makan/minum mencapai 32,6%, penipuan keuangan mencapai 24,5% dan Iptek mencapai 23,7%.

Dari penelitian di atas, maka kita bisa melihat bahwa hoax yang paling dominan adalah masalah sosial politik dan SARA, dan kita semua tahu kedua tema tersebut kerap kali menggelindingkan "isu-isu panas" yang sangat berbahaya terhadap solidaritas kebangsaan. Menurut saya, melawan hoax bukan dengan viralisasi slogan "SAY NO TO HOAX" tapi mutlak membangun system konstruksi literasi ke setiap lapisan masyarakat kita.

Kompetensi sebuah Negara tidak bisa di bantah turut menyokong pertahanan sebuah Negara terhadap potensi asing yang ingin melemahkan Negara. Seiring lajunya perkembangan teknologi digital yang kian pesat turut membuat konsep konflik antar Negara pun berubah. Dulunya, perang klasik antar Negara selalu identik dengan perang konvensional melalui agresi senjata militer.

Potensi konflik antar Negara yang perlu kita waspadai hari ini adalah "PROXY WAR". Proxy war tidak melalui kontak kekuatan militer tapi melibatkan arena tarung dalam berbagai aspek kehidupan sebuah bangsa, seperti aspek politik, ekonomi dan social budaya. Proxy war secara praktis adalah konfrontasi dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi langsung dengan alasan menghindari resiko konflik langsung yang destruktif. Dalam proxy war, sulit sekali di lihat siapa kawan dan siapa lawan karena di lakukan oleh "non state actor" di bawah kendali oleh Negara tertentu.

Indonesia berada pada posisi penentu dalam lalu lintas ekonomi dunia. Letak geografi strategis di mana Indonesia di apit oleh benua Asia dan Australia dan di apit oleh dua samudera yaitu samudera pasifik dan atlantik.

Menyadari realitas ini sangat besar kemungkinan Indonesia menjadi "battle ground" dari kekuatan modal dari kepentingan-kepentingan asing. Di tengah fakta literasi masyarakat yang minim dan berhadapan dengan potensi konflik ini akan membuat kita sebagai Negara sangat rentan dengan infiltrasi pelemahan dari internal Negara.

Indikasi dan potensi proxy war di Indonesia bukan tanpa sebuah dasar, kita harus sadar bahwa Negara besar Indonesia sangat menjadi incaran kepentingan asing karena Negara kita memiliki potensi kekayaan alam yang sangat besar (negeri yang menjadi surga bahan mentah). Ditambah lagi secara geografi ekonomi, Indonesia berada di poros kawasan konsumsi dan produksi yang vital bagi ekonomi dunia.

Bukan hal yang berlebihan jika kita memiliki cita-cita dan suatu tujuan berwujud impian masa depan bangsa kita ini menjadi lebih baik. Terdapat berbagai jalur yang bias ditempuh salah satunya adalah konstruksi literasi unggul dalam masyarakat. Aktivitas seperti membeca, menulis, bernalar kritis dan riset harus bias menjadi pola dan gaya hidup bukan sekedar progaram kurikulum pendidikan saja. Kamudian pola pendidikan berbasis data dan fakta dalam masyarakat harus diajarkan dan diterapkan sehingga masyarakat kuat berakar dari segi ideology. Dalam melahirkan terobosan-terobosan yang inovatif, Negara harus memiliki masyarakat dengan kompetensi berdaya saing dan wawasan ke masa depan.

Kesimpulannya kualitas literasi bangsa ini harus ditingkatkan sedemikian rupa dengan segala macam cara untuk sampai melahirkan kompetensi masyarakat dan bangsa yang sanggup berdikari. Menjadi pesimis karena terintimidasi oleh realitas ironis membuat kita tidak bias menjadi pelaku perubahan. Kita harus tetap optimis dan tidak boleh kehilangan optimism sebagai bangsa yang besar untuk membangun kesolidan pertahanan bangsa yang berdaya saing.

Kota ManadopendidikanEkonomiBerita